Selama hampir satu abad, buku-buku sejarah Asia Tenggara mencatat bahwa Islam telah masuk ke Kerajaan Champa (sekarang wilayah Vietnam) sejak abad ke-11. Teori ini didasarkan pada penemuan dua prasasti Arab kuno yang dianggap sebagai bukti tertua keberadaan Muslim di wilayah tersebut. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan fakta yang mengejutkan: sejarah tersebut ternyata dibangun di atas fondasi yang keliru, bahkan mungkin sebuah pemalsuan yang disengaja. Artikel ini disusun berdasarkan Jurnal: "Islam in Champa and the Making of Factitious History" oleh Stephen G. Haw.
Prasasti "Nyasar" dari Tunisia
Segala perdebatan ini bermula pada tahun 1922, ketika Paul Ravaisse mempublikasikan dua prasasti Arab yang diklaim ditemukan di pesisir Annam (Vietnam). Prasasti ini bertanggal awal abad ke-11 dan selama 90 tahun menjadi pilar utama sejarah Islam di Champa.
Kejutan besar muncul pada tahun 2003 dan 2012. Para ahli epigrafi Arab menemukan bahwa prasasti tersebut bukan berasal dari Asia Tenggara, melainkan dari Kairouan, Tunisia. Bahkan, salah satu prasasti tersebut diidentifikasi sebagai karya seorang pemahat dari abad ke-19 yang tinggal di Tunisia. Diduga kuat bahwa Ravaisse memfabrikasi cerita tentang asal-usul prasasti tersebut agar terlihat seolah-olah ditemukan di Champa.
Salah Tafsir "Allahu Akbar" dan Gelar "Abu"
Selain prasasti, para pendukung teori "Islam Awal di Champa" sering menggunakan catatan Tiongkok dari Dinasti Song. Namun, Stephen G. Haw dalam jurnalnya membedah kesalahan-kesalahan interpretasi tersebut:
-
Mantra Ritual: Istilah "A luo he ji ba" dalam catatan Tiongkok sempat dikira sebagai transkripsi dari "Allahu akbar". Kenyataannya, kata tersebut kemungkinan besar adalah bahasa Cham kuno untuk kerbau (kabav) yang digunakan dalam ritual Hindu.
-
Misteri Nama "Pu": Banyak penguasa Champa memiliki nama depan "Pu", yang sering dianggap singkatan dari nama Arab "Abu",. Padahal, "Pu" adalah gelar kehormatan asli Austronesia (mPu, Pu, atau Po) yang lazim digunakan oleh penguasa Hindu di Asia Tenggara.
-
Pakaian "Arab": Champa disebut berpakaian mirip orang Arab (Dashi). Namun, perbandingannya hanya pada bahan kain: orang Champa memakai katun, bukan sutra seperti orang Tiongkok pada masa itu.
Dampak bagi Sejarah Nusantara: Teka-teki Sunan Ampel dan Putri Cempa
Temuan ini membawa dampak besar bagi historiografi di Indonesia, terutama mengenai asal-usul Sunan Ampel yang dalam tradisi Jawa disebut berasal dari Cempa pada abad ke-15. Pada tahun 1817, Thomas S. Raffles dan Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië - Deel 4 tahun 1905 telah menjelaskan bahwasannya Champa/Cempa yang dimaksud sebagai asal-usul Putri Cempa dan tempat kelahiran Sunan Ampel tidak lain merujuk pada suatu tempat yang bernama ”Jeumpa” (baca: Tjempa) berada di Kabupaten Bireuën, Aceh saat ini. Dalam Buku ”Tarich Atjeh dan Nusantara” karya HM Zainuddin dikatakan ”Sebelum terdiri keradjaan Islam, Djeumpa diperintah oleh Maharadja Djeumpa jang masih bertradisi ala Hindu (Maha Wisnu), kemudian dari itu barulah terdiri keradjaan Samudra Pasai, dan keradjaan Tamiang.”
Selanjutnya berdasarkan sumber-sumber sejarah yang kredibel, klaim Champa sebagai kerajaan Islam di abad ke-15 sangat diragukan:
-
Kesaksian Ma Huan (1433): Ma Huan, seorang Muslim yang mendampingi Laksamana Zheng He, mengunjungi Champa di awal abad ke-15. Sebagai sesama Muslim, ia sama sekali tidak melaporkan adanya komunitas Muslim di sana, dan diberitakan Raja-nya beragama Buddha yang taat.
-
Laporan Tomé Pires (1512-1515): Penjelajah Portugis ini menyatakan secara tegas bahwa tidak ada "Moor" (Muslim) di kerajaan Champa hingga awal abad ke-16. Bangsa Portugis dikenal sangat memperhatikan keberadaan komunitas Islam di wilayah baru yang mereka kunjungi.
Jika Islam bahkan belum hadir secara signifikan di Champa hingga abad ke-16, maka narasi tradisional tentang seorang pangeran Muslim dari Champa yang datang ke Jawa pada abad ke-15 menjadi sebuah anomali sejarah. Semua bukti awal yang bertanggal abad ke-11 hingga ke-15 kini terbukti salah atau merupakan hasil interpretasi yang dipaksakan.
Kapan Islam Benar-benar Masuk Champa?
Stephen G. Haw menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat keberadaan Islam di Champa hingga setelah abad ke-16. Islam pertama kali menetap di Asia Tenggara justru di Sumatra Utara (Samudra-Pasai) pada akhir abad ke-13, sementara Champa saat itu masih tercatat sebagai wilayah penganut Hindu-Buddha atau penyembah berhala.
Kasus Champa menjadi pelajaran berharga bahwa sebuah "fakta" yang telah dikutip selama puluhan tahun pun bisa runtuh ketika bukti-bukti arkeologisnya terbukti sebagai hasil dari "sejarah semu" (factitious history).
Oleh : Nurul Yaqin
MAPSINU