Dalam catatan sejarah kolonial Portugis, terselip satu nama yang membangkitkan rasa hormat sekaligus ketakutan luar biasa bagi para pelaut Eropa di abad ke-16: Pateonuz (Pati Unus). Ia bukan sekadar penguasa biasa; ia adalah penguasa kota Jepara di pulau Jawa yang digambarkan sangat kaya raya dan memiliki ambisi maritim melampaui zamannya.

Ambisi Sang Penantang Samudra

Jauh sebelum Afonso de Albuquerque menginjakkan kaki di Malaka, Pati Unus telah merajut rencana besar untuk menguasai kota pelabuhan strategis tersebut. Melalui korespondensi rahasia dengan Utimutiraja (Sri Utama Raja), seorang pemimpin kuat di Malaka, mereka sepakat untuk menjadikan Pati Unus sebagai Raja Malaka.

Demi mewujudkan visi ini, Pati Unus tidak main-main. Ia menghabiskan waktu tujuh hingga delapan tahun hanya untuk membangun armada perang yang mahabesar. Persiapannya dilakukan dengan sangat rapi dan tertutup, membuktikan kecerdasan strategisnya sebagai pemimpin militer.

Armada 300 Kapal: Saat Laut Tertutup Layar

Ketika Pati Unus akhirnya berlayar menuju Malaka, ia membawa kekuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh orang-orang di wilayah tersebut. Armadanya terdiri dari sekitar 300 kapal, yang meliputi jung raksasa (jungos), lanchara, dan kapal-kapal dayung lainnya.

Kehadiran armada ini menciptakan teror mental bagi penduduk Malaka dan garnisun Portugis yang menjaganya. Naskah sejarah mencatat bahwa jumlah kapal Pati Unus begitu banyak hingga "tampak menutupi permukaan laut" ke mana pun mata memandang.

Teknologi Jung Raksasa yang Tak Terhancurkan

Salah satu bagian paling menakjubkan dari catatan Portugis adalah deskripsi tentang jung utama (flagship) milik Pati Unus. Kapal ini adalah keajaiban teknologi maritim Jawa pada masa itu:

  1. Ukuran Raksasa: Kapal ini begitu tinggi hingga tiang-tiang kapal Portugis bahkan tidak mampu mencapai bagian belakangnya.
  2. Perisai Tujuh Lapis: Lambung kapal ini dibangun dengan tujuh lapis kayu dan dilapisi bahan khusus yang sangat kuat.
  3. Tahan Meriam: Saat pertempuran pecah, artileri Portugis dibuat tak berdaya. Peluru-peluru meriam mereka dilaporkan membal setelah mengenai lambung kapal Pati Unus, seolah-olah hanya menghantam batu karang yang kokoh.

Pertempuran Berdarah di Selat Malaka

Pertemuan antara armada Pati Unus dan armada Portugis di bawah pimpinan Fernão Perez de Andrade menjadi salah satu laga laut paling brutal dalam sejarah Nusantara. Portugis yang kalah jumlah terpaksa menggunakan strategi pembakaran (artificios de fogo) dan tembakan artileri tanpa henti untuk membendung laju pasukan Jawa.

Pertempuran ini berlangsung sengit selama beberapa hari. Catatan menyebutkan bahwa laut di sekitar Malaka berubah menjadi merah oleh darah saking banyaknya prajurit yang gugur dan tenggelam.

Kekalahan yang Menjadi Monumen Kehormatan

Meskipun memiliki keunggulan jumlah dan ketangguhan kapal, takdir berkata lain. Pati Unus menderita kekalahan besar:

  • Ia kehilangan 59 dari 60 jung besarnya.
  • Lebih dari 8.000 prajuritnya tewas dalam pertempuran.
  • Pati Unus sendiri terluka, namun berhasil meloloskan diri kembali ke Jawa.

Namun, bagi Pati Unus, kegagalan merebut Malaka bukanlah aib yang harus disembunyikan. Setibanya di Jepara, ia memerintahkan agar satu-satunya jung raksasa yang tersisa ditarik ke daratan dan dilindungi dengan atap kayu. Kapal tersebut dijadikan monumen peringatan atas keberaniannya menantang kekuatan Portugis dan sebagai simbol kehormatan bahwa ia berhasil selamat dari pertempuran paling mematikan tersebut.

Kisah Pati Unus adalah bukti nyata bahwa kekuatan maritim Nusantara pernah mencapai puncaknya, di mana teknologi dan keberanian anak bangsa sanggup membuat kekuatan besar dunia gemetar di tengah samudra.


Referensi : Chronica d'el-rei D. Manuel. Vol VII. 1574. Damião de Góes.