Nalar dan Logika Adalah Resep Wajib Sejarawan.

Pernahkah Anda membayangkan sejarah sebagai sebuah resep masakan? Untuk membuat rendang yang lezat, anda tidak bisa asal memasukkan semua bumbu yang Anda suka. Ada takaran, urutan, dan teknik yang harus diikuti. Salah sedikit, rasanya bisa jadi enggak karuan.

Begitu pula dengan sejarah. Menulis sejarah bukan sekadar mengumpulkan cerita-cerita lama lalu merangkainya sesuka hati. Menulis sejarah ibaratnya yang mudah kita cerna adalah pekerjaan seorang detektif, bukan pendongeng. Alat utamanya yaitu Nalar dan Logika. Tanpa dua alat ini, sejarah yang kita baca bukanlah cerminan masa lalu, melainkan sebuah dongeng yang berbahaya.

Sejarawan Itu  seperti Detektif, bukan Juru Cerita.  Seorang sejarawan tidak hadir di masa lalu. Ia misalnya  tidak melihat langsung Perang Diponegoro atau detik-detik Proklamasi. Namun ia bertugas untuk merekonstruksi atau membangun kembali peristiwa itu berdasarkan bukti-bukti yang tertinggal sedetail mungkin, yang kita sebut sebagai sumber sejarah (arsip, surat kabar lama, foto, prasasti, wawancara pelaku).

Di sinilah nalar dan logika berperan seperti kaca pembesar seorang detektif, dimana ia harus :

  1. Memverifikasi Sumber (Kritik Sumber): Apakah sumber ini asli atau palsu? Siapa penulisnya? Apa kepentingannya saat menulis itu? Seorang sejarawan tidak bisa langsung percaya pada sebuah catatan harian seorang pejabat Belanda tanpa berpikir, "Mungkin saja ia menulis ini untuk membenarkan tindakannya." Inilah logika bekerja. Apalagi catatan catatan anonim, tanpa nama dan tidak jelas asal usulnya
  2. Menghubungkan Titik-Titik: Sejarah juga mengurai tentang sebab-akibat. Mengapa Perang di Gresik, di Sunda kelapa, Banten dan Sunda kelapa terjadi ? Jawabannya bukan sekadar "tersinggung". Nalar akan menuntun kita untuk melihat rangkaian peristiwa sebelumnya; persaingan industri, aliansi militer, ataupun semangat persatuan  dan kemerdekaan yang membara.  Dengan memakai Logika maka membantu menyusun kepingan-kepingan puzzle ini menjadi gambar yang utuh.
  3. Menafsirkan Secara Objektif: Nalar memaksa sejarawan untuk menyingkirkan perasaan pribadi. Mungkin seorang sejarawan tidak suka dengan suatu tokoh, tetapi ia harus menyajikan fakta tentang tokoh itu apa adanya, baik sisi baik maupun buruknya. Sejarah yang baik tidak menghakimi, tetapi menjelaskan.

Akibat Fatal Jika Sejarah Ditulis Tanpa Nalar: Racun Bagi Bangsa!

Lalu, apa yang terjadi jika "resep" sejarah ini tidak memakai nalar dan logika? Akibatnya sangat merusak, antara lain :

  1. Sejarah Menjadi Alat Propaganda: Tanpa logika, sejarah bisa dibengkokkan untuk memuja seorang penguasa, membenarkan sebuah ideologi, atau menjelek-jelekkan kelompok lain. Sejarah firaun, misalnya, menempatkan manusia menjadi tuhan yang ingin dipuja-puja sepanjang masa.  Ini  jelas bukanlah sejarah, ini adalah upaya menciptakan kultus individu.
  2. Terjadinya Pembodohan Masal: Masyarakat yang dicekoki sejarah fiktif akan memiliki pemahaman yang keliru tentang identitasnya sendiri. Mereka akan bangga pada kehebatan yang tidak pernah ada, atau membenci musuh yang diciptakan. Ini membuat bangsa menjadi rapuh karena pondasinya dibangun di atas kebohongan.
  3. Kehilangan Pelajaran Berharga: Sejarah yang jujur, dengan segala kegagalan dan kesalahannya merupakan guru terbaik. Kita belajar dari kekalahan agar tidak terulang. Kita belajar dari konflik agar lebih bijaksana. Jika sejarah hanya berisi kemenangan dan kehebatan, kita tidak akan pernah belajar apa-apa selain kesombongan. Jangan sekali kali mempelajari sejarah. Cuma untuk memamerkan kesombongan. Ingat, setan di usir karena kesombongannya.
  4. Memicu Konflik Horizontal: Narasi sejarah yang menyalahkan satu suku atau satu agama atas sebuah malapetaka di masa lalu adalah bom waktu. Tanpa verifikasi dan logika, cerita ini akan terus diwariskan dan bisa meledak menjadi kebencian dan konflik sosial di masa kini.

Kasus di Indonesia: Saat Novel Dianggap Kitab Sejarah

Inilah masalah yang masih sering kita temui di Indonesia. Banyak orang menjadikan karya sastra (novel, babad, hikayat, carita) sebagai rujukan sejarah utama. Apakah karya sastra itu buruk? Tentu tidak! Novel-novel Pramoedya Ananta Toer atau Putu Praba Darana atau bahkan Babad Tanah Jawi adalah karya agung yang bisa menangkap semangat zaman, emosi, dan suasana batin masyarakat pada masanya. Karya sastra memberi kita "rasa" dari masa lalu.

TETAPI, tujuan karya sastra berbeda dengan karya sejarah. Tidak sama! Sastra bertujuan untuk keindahan dan kekuatan cerita. Penulis bebas menciptakan dialog, menambahkan tokoh fiktif, atau mendramatisir peristiwa untuk menggugah emosi pembaca.

Sementara Sejarah bertujuan untuk kebenaran faktual. Sejarawan terikat pada bukti. Ia tidak boleh mengarang dialog atau menambahkan peristiwa yang tidak ada catatannya. Bahayanya di mana? Ketika kita menganggap dialog fiktif dalam sebuah novel sejarah sebagai kutipan asli seorang tokoh. Atau menganggap sebuah babad yang ditulis untuk melegitimasi kekuasaan seorang raja sebagai laporan peristiwa yang objektif. Saat itulah kita berhenti menggunakan nalar. Kita menelan mentah-mentah sebuah cerita karena terasa "heroik" atau "nasionalis", tanpa bertanya: "Apa buktinya ini benar-benar terjadi?"

Penulis atau Pembaca Sejarah yang Kritis Membaca sejarah adalah tentang memahami siapa kita dengan melihat jejak langkah para pendahulu. Untuk memahami jejak itu dengan benar, kita harus menyalakan lampu nalar dan logika kita. Jangan mudah percaya pada cerita yang terlalu sempurna atau terlalu heroik. Tanyakan buktinya. Curigai narasi yang hanya menyajikan satu sisi. Sebuah bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani melihat sejarahnya secara utuh, dengan segala kerumitan, kemenangan, dan juga lukanya. Karena sejarah yang ditulis dengan akal sehat akan melahirkan bangsa yang sehat akalnya. Sebaliknya, sejarah yang ditulis sebagai dongeng hanya akan meninabobokan kita dalam buaian ilusi. Terlebih lagi ketika ingin menjadi penulis sejarah, kritis dan nalar menjadi nyawa atas kualitas tulisan sejarah yang ditulis karena sejarah bukanlah dongeng.

Oleh : H. Sariat Arifia