Tuban, Jawa Timur – Kerajaan Majapahit, yang terkenal dengan dominasi Hindu-Buddha pada abad ke-14, menyimpan misteri besar terkait jejak awal penyebaran Islam di Tanah Jawa. Selama ini, bukti arkeologis berupa catatan tertulis yang menyebut nama atau pesan Islam dari era tersebut sangatlah langka. Namun, sebuah penemuan menakjubkan di Tuban telah mengubah historiografi Islam Nusantara, membuka jendela baru untuk memahami bagaimana Islam mulai berakar di jantung kekuasaan Majapahit.

 

Penelitian terbaru mengungkap signifikansi historis dan religius dua batu nisan Islam dari era Majapahit di Kingking, Tuban, Jawa Timur. Yang paling menonjol adalah batu nisan Sirajuddin Isa ibn Salahuddin Al Ma'bary, yang secara lokal dikenal sebagai Mbah Modot, serta sebuah nisan tak bernama di kompleks Mbah Randu. Penemuan nisan berinskripsi ini merupakan temuan yang "mewah" dan istimewa, mengingat kelangkaan epitaf Arab serupa di Jawa dibandingkan wilayah seperti Sumatra (Aceh dan Barus).

 

Sirajuddin Isa: Sang 'Cahaya Agama' dari Ma'bar (Malabar)

 

Identitas yang terukir pada batu nisan Sirajuddin Isa memberikan wawasan berharga. Nama "Siraju-d-Din" yang berarti "Cahaya Agama" mencerminkan status tinggi dan peran signifikan almarhum sebagai pemimpin spiritual dalam komunitas Muslim Tuban kala itu. Inskripsi tersebut juga mengidentifikasi ayahnya, Shalahu-d-Din Al-Ma'bariy, yang berasal dari wilayah Ma'bar di Tamil Nadu, India. Penyebutan asal-usul ayah ini merupakan bukti arkeologis yang sangat penting dan langka, yang menunjukkan konektivitas Tuban dengan pusat-pusat perdagangan dan keagamaan Islam di dunia, seperti Samudra Pasai dan Barus.

 

Batu nisan ini mencatat tanggal wafat Sirajuddin Isa pada Minggu, 26 Rabi'ul Awal 782 Hijriah, atau 7 Juli 1380 Masehi. Ini menjadikannya salah satu teks paling awal yang menjelaskan keberadaan seorang penyebar Islam yang teridentifikasi di Jawa, sejajar dengan cenotaph Malik Ibrahim.

 

 

 

Dua Hukum Islam Fundamental yang Terukir di Batu

 

Lebih dari sekadar identitas, batu nisan Sirajuddin Isa juga menjadi artefak penting yang mengilustrasikan penyebaran hukum-hukum Islam dan pertukaran budaya di Jawa. Penelitian ini menyoroti dua hukum Islam utama yang disampaikan melalui nisan-nisan tersebut:

 

  1. Tauhid (Keesaan Allah) dan Penolakan Syirik: Di bagian atas batu nisan Sirajuddin Isa, terukir pesan yang mendalam: "اْلبَاِقيَ سَلُوا" yang berarti "Mintalah kepada Yang Maha Kekal!". Pernyataan lugas ini memiliki dampak teologis yang kuat, yaitu menolak praktik meminta kepada selain Allah. Pesan ini diyakini merupakan antitesis terhadap praktik-praktik lokal yang mungkin umum di Tuban pada masa itu, seperti meminta di situs keramat atau melakukan "udik-udikan" di kuburan untuk memohon kekayaan. Dalam Islam, syirik (menyekutukan Allah) adalah dosa terbesar, dan Tauhid adalah prinsip fundamentalnya. Dengan demikian, Sirajuddin Isa telah menyampaikan salah satu ajaran terpenting Islam yang menekankan penolakan syirik besar.

 

  1. Tradisi Ziarah Kubur dan Mendoakan Jenazah: Meskipun Islam melarang penyembahan dan meminta bantuan dari kuburan, praktik ziarah kubur justru dianjurkan untuk mengingatkan manusia akan kematian dan akhirat. Pada batu nisan Sirajuddin Isa, terdapat untaian doa: "تَغَمَّدَهُ بِالرَّحْمةِ وَ الرِّضْوانِ اللهُ" yang berarti "Semoga Allah meliputinya dengan rahmat dan keridhaan-Nya". Frasa ini menjadi seruan bagi setiap pengunjung untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan rahmat dan keridhaan Allah, memperkuat ikatan spiritual antar komunitas Muslim.

 

Ornamen Lotus: Perpaduan Spiritualitas Lokal dan Islam

 

Batu nisan ini juga dihiasi dengan motif floral indah yang melambangkan kehidupan abadi dan surga. Yang istimewa adalah adanya ornamen padmasana (teratai) di bawah bunga, sebuah simbol yang dalam tradisi Hindu-Buddha Jawa digunakan pada candi-candi raja, melambangkan pencapaian spiritual tertinggi.

 

 

 

Namun, teratai di nisan-nisan ini digambarkan secara unik, seolah tidak tumbuh dari air – sebuah konsep yang diyakini diajarkan oleh Wali Songo. "Teratai tanpa kolam" ini melambangkan Insan Kamil, pribadi yang telah mencapai spiritualitas dan kebijaksanaan tertinggi, meninggalkan "lumpur" duniawi karena keberadaan Allah-lah yang menopangnya. Ini adalah bukti nyata bagaimana bentuk seni pra-Islam tidak dihilangkan, melainkan diadaptasi menjadi bagian dari dakwah dan seni Islam, menunjukkan fusi budaya yang harmonis.

 

Konektivitas Global dan Peran Kalender Hijriah

 

Kemiripan gaya kaligrafi pada nisan-nisan Tuban dengan yang ditemukan di Aceh menunjukkan adanya jaringan maritim perdagangan dan penyebaran Islam yang kuat antara kedua wilayah. Lebih lanjut, penggunaan jenis kaligrafi Arab gaya India (al-khaththu-l-Hindiy) dan identitas "Al-Ma'bariy" semakin memperkuat dugaan hubungan dagang dan religius Ma'bar (India) dengan Tuban, pelabuhan utama Majapahit.

 

Penggunaan kalender Hijriah pada inskripsi kedua nisan juga menunjukkan bahwa sistem penanggalan Islam telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari dan keagamaan di Tuban pada masa itu. Kalender Hijriah sangat penting dalam menentukan tanggal-tanggal ibadah krusial seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan waktu pelaksanaan Haji.

 

Warisan Abadi Sirajuddin Isa

 

Penemuan batu nisan Sirajuddin Isa di Kingking Tuban bukan hanya sekadar penemuan arkeologis, melainkan sebuah historiografi baru yang menyoroti peranan kunci figur ini dalam penyebaran Islam di era Majapahit. Sebagai "Cahaya Agama", Sirajuddin Isa mewakili kemurnian dan menautkan Jawa dengan pusat-pusat Islam lainnya seperti Aceh dan Malabar.

 

Makamnya mengungkapkan dua hukum Islam penting: Keesaan Allah (Tauhid) dan penolakan syirik, serta tradisi ziarah kubur dan mendoakan jenazah. Sementara kalender Hijriah, meskipun bukan hukum formal, memainkan peran vital dalam mengatur kehidupan religius. Warisan Sirajuddin Isa terus menggali pemahaman kita tentang identitas Islam di Indonesia dan bagaimana keyakinan-keyakinan baru berintegrasi dengan budaya lokal yang sudah ada.

 

 

 

 

Referensi : Jurnal "UNVEILING THE HISTORY AND ISLAMIC LAWS THROUGH THE TOMBSTONE OF SIRAJUDDIN ISA IN TUBAN, MAJAPAHIT" Vol. 5, No. 2, February 2025 (e-ISSN: 2807-8691 | p-ISSN: 2807-839X) oleh: Sariat Arifia, Mizuar Mahdi, Taqiyuddin Muhammad, Nurul Yaqin, M. Ali Alwi.

https://doi.org/10.46799/ijssr.v5i2.1194