Pendahuluan Sejarah Indonesia kaya akan narasi epik tentang perlawanan terhadap kolonialisme dan penyebaran agama. Salah satu babak penting yang kerap luput dari perhatian dalam catatan sejarah lokal adalah kolaborasi strategis antara Kesultanan Demak dan Kesultanan Pasai pada abad ke-16. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengusir penjajah Portugis, tetapi juga memainkan peran krusial dalam pendirian kota Jakarta. Sebuah studi arkeologi terbaru mengungkap bukti kuat dari aliansi ini melalui temuan nisan Pasai di kompleks Makam Masjid Agung Demak.
Ketika Babad Tanah Jawi "Bungkam" Menariknya, kisah kolaborasi penting ini tidak tercatat dalam Babad Tanah Jawi. Babad Tanah Jawi adalah literatur penting yang sering menjadi rujukan utama untuk memahami sejarah Jawa, namun penulisannya masih diselimuti spekulasi dan naskah aslinya pun belum ditemukan hingga kini. Absennya narasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keberadaan hubungan Demak-Pasai dalam pengusiran Portugis dan pendirian Jakarta. Inilah yang menjadikan penelitian arkeologi ini begitu penting, karena ia menghadirkan bukti otentik yang dapat mendukung catatan dari sumber-sumber Portugis.
Nisan Sebagai Saksi Bisu Sejarah Dalam lingkungan tropis Asia Tenggara yang lembap, bukti arkeologi seperti bangunan masjid atau manuskrip seringkali sulit ditemukan. Oleh karena itu, nisan batu menjadi artefak yang sangat berharga karena sifatnya yang tahan lama. Studi tipologi nisan—klasifikasi berdasarkan bentuk, ornamen, dan material—telah lama digunakan untuk merekonstruksi sejarah masuknya Islam di wilayah ini.
Penelitian ini secara khusus mengadopsi pendekatan Arkeologi Indo-Islam dan memfokuskan pada tipologi nisan Pasai di Masjid Agung Demak. Para peneliti melakukan survei lapangan komprehensif dari tahun 2019 hingga 2024, didukung oleh tinjauan literatur dan analisis kritis terhadap data yang terkumpul.
Tipologi Nisan Aceh/Pasai: Identifikasi dan Periodisasi Sejarawan dan Arkeolog terkemuka Malaysia, Othman Yatim, telah memberikan kontribusi besar dalam tipologi nisan di Asia Tenggara, khususnya "Batu Aceh". Ia mengklasifikasikan nisan-nisan ini ke dalam dua era utama:
- Era Pasai (1400-1600-an): Nisan pada periode ini menunjukkan ukiran rumit, inskripsi Arab, dan perpaduan elemen seni lokal serta Islam. Nisan-nisan ini mencerminkan nilai budaya dan agama Kesultanan Pasai dan perannya dalam penyebaran Islam.
- Era Darussalam (1600-1800-an): Setelah kemunduran Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam bangkit. Nisan pada periode ini menunjukkan kelanjutan dan evolusi gaya sebelumnya, dengan penekanan yang lebih besar pada karakteristik lokal Aceh.

Yatim juga mengidentifikasi 14 subtipe nisan Aceh yang dapat dikenali. Penelitian ini secara spesifik berfokus pada tipe F, yang secara umum beredar antara tahun 1500 dan 1550, bertepatan dengan masa perlawanan terhadap Portugis. Inskripsi Syahadat juga sering ditemukan pada nisan-nisan ini, menegaskan keimanan Islam dan berfungsi sebagai pengingat akan keesaan Allah (Tauhid).

Temuan di Masjid Agung Demak: Bukti Tak Terbantahkan Dalam penelitian di area Masjid Agung Demak, tim menemukan 13 nisan dengan karakteristik tipologi Pasai tipe F di area pemakaman. Nisan-nisan ini ditemukan di beberapa zona pemakaman, termasuk di area inti di mana Raden Trenggono dimakamkan.
Nisan-nisan ber-tipe "F" di Aceh Utara
Beberapa contoh temuan nisan tipe F di Demak meliputi:
- Nisan tipe F polos tanpa ornamen pinggang
- Nisan tipe F dengan ornamen pinggang
- Nisan tipe F dengan inskripsi kalimat Tauhid dan ornamen medali (lingkaran)
Nisan ber-epitaf kalimat Tauhid di Demak
Aliansi Strategis: Demak, Pasai, dan Fatahillah Kehadiran nisan-nisan tipe F Pasai di Masjid Agung Demak secara jelas menunjukkan adanya hubungan antara Demak dan Pasai pada periode 1500-1550. Hubungan ini berkaitan erat dengan kerjasama mereka dalam mengusir Portugis, di mana Fatahillah (juga dikenal sebagai Faletehan) muncul sebagai tokoh kunci dari Pasai. Fatahillah adalah seorang panglima perang yang memimpin armada gabungan Demak dan Pasai untuk menghalau upaya Portugis menguasai Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).
Upaya Portugis untuk memasuki Jawa dan menguasai rempah-rempah dimulai sejak 1513, dengan ekspedisi yang dipimpin oleh Joao Lopes de Akvim. Namun, ketika Tome Pires, agen intelijen Portugis, tiba di Pelabuhan Gresik pada 1514, ia menghadapi penolakan tegas dari Raden Trenggono, penguasa Demak. Raden Trenggono, bersama saudara iparnya Patih Unus dari Jepara, bahkan sebelumnya telah menyerang Portugis di Malaka.
Pada tahun 1527, Portugis mencoba menguasai pelabuhan-pelabuhan Sunda di Sunda Kelapa dan Banten. Namun, pasukan gabungan yang dipimpin oleh Fatahillah, atas perintah Sultan Demak dan dukungan dari Cirebon, berhasil merebut Sunda Kelapa dan Banten. Pasukan Portugis yang dipimpin D. Coelho mengalami kekalahan telak dan terpaksa mundur ke Malaka.
Aliansi ini sebenarnya bukan hal baru. Hubungan dekat antara Pasai dan Jawa, khususnya Demak, telah terjalin kuat pasca-keruntuhan Majapahit, didorong oleh kebutuhan akan hubungan dagang (beras dari Jawa ke Pasai, lada dari Pasai ke Jawa melalui Demak) serta hubungan keagamaan dalam penyebaran Islam. Bahkan, kerjasama ini sudah ada sejak era Majapahit, seperti investasi bersama dalam pembangunan Pelabuhan Gresik pada tahun 1425 yang melibatkan Pasai, Majapahit, Malaka, Dinasti Ming Tiongkok, dan Kerajaan Cambayat Gujarat.
Menghidupkan Kembali Narasi Sejarah yang Terlupakan Studi ini menegaskan bahwa keberadaan nisan Pasai tipe F di Demak mengisi kekosongan dalam narasi sejarah Jawa dan menghidupkan kembali kisah aliansi Demak-Pasai yang seringkali terabaikan dalam historiografi era Belanda seperti Babad Tanah Jawi. Temuan ini memberikan bukti konkret bahwa pendirian kota Jakarta memang merupakan hasil aliansi strategis antara Demak dan Pasai, dengan jejak pengaruh budaya Pasai yang terlihat jelas pada nisan-nisan tersebut.
Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk menggali kontribusi Wali Songo dalam konteks ini, dengan fokus pada strategi kolaboratif, dampak budaya, bukti arkeologi, dan narasi lokal terkait perlawanan terhadap kolonialisme.
Referensi:
Arifia, S., Mahdi, M., Akmal, A., Munawir, M., & Adi, J. A. (2024). DEMAK-PASAI COLLABORATION IN THE ESTABLISHMENT OF JAKARTA: AN ARCHAEOLOGICAL ANALYSIS OF ACEH PASAI TOMBSTONES AT THE GREAT MOSQUE OF DEMAK. International Journal of Social Service and Research. https://doi.org/10.46799/ijssr.v4i11.1105


MAPSINU